QURANIY.ID
Pesantren Tahfidz Quran Indonesia

Sejarah Kemunculan Harokat dan Titik Pada Mushaf Al Quran

12

Pada masa-masa awal penyebaran Islam, ayat-ayat Al Quran ditulis dan dibukukan tanpa memiliki tanda baca (harokat) dan titik alias gundul. Lantas, bagaimana sejarah Mushaf Al Quran yang kita baca saat ini bisa memiliki harokatdan titik sehingga lebih mudah dibaca bahkan oleh orang-orang non Arab sekalipun? Berikut ringkasannya:

Al Quran itu secara keseluruhan tertulis pada masa Nabi Muhammad saw., akan tetapi tidak terkumpul dalam satu tempat dan tidak tersusun secara urut surat suratnya dalam satu mushaf. Ketauhilah bahwa tersusunnya Al Quran dan masa turunnya adalah pada masa kenabian, dan semuanya langsung di bimbing dengan wahyu Allah.

Dalam kitab sejarah yang shahih, pengumpulan lembaran lembaran di lakukan pada zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq ra., dan beliaulah yang menamai tulisan tulisan itu dengan Mushaf. keterangan ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad ra. dan Ibnu Abi Syaibah ra..

Dalam riwayat yang dibawakan Imam Bukhari dan At TirmidziZaid bin Tsabitmenceritakan dengan panjang, dimana Kholifah Abu Bakar Sidiq ra. memerintahkannya untuk mengumpulkan Al Quran.

Abu Bakar berkata “Umar menemuiku dan berkata, Korban perang meluas pada hari Yamamah-yakni pada perang melawan Musailamah al Kadzdzab-hingga menimpa para penghafal Al Quran. Aku kwatir dengan meninggalnya banyak penghafal Al Quran di berbagai medan pertempuran, maka hilang pula banyak ayat Al Quran. Aku berpendapat, sebaiknya engkau mengumpulkan Al Quran.”

Setelah Zaid bin Tsabit menyelesaikan tugasnya, Mushaf itu berada pada Kholifah Abu Bakar ra. hingga Allah mewafatkan Beliau. Kemudian dibawa Umar bin Khattab ra. sampai Allah mewafatkannya, lalu dibawa oleh Hafshah binti Umar ra., demikian Imam Bukhari mengabadikan dalam sebuah riwayat dalam kitabnya.

Kemudian pada masa Utsman bin Affan ra.Hudzaifah Ibnu Yaman ra.mengusulkan untuk menyelamatkan umat Islam dari perselisihan dalam masalah Kitab, karena saat itu Hudzaifah melihat banyak umat yang berbangga-bangga dengan setiap bacaannya dan merasa paling bagus.

Maka Utsman bin Affan ra. memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit ra., Abdullah bin Zubair ra.Said bin Ash dan Abdurahman bin Harist bin Hisyamuntuk menyalinnya pada sejumlah mushaf.

Berkata Utsman bin Affan “ Apabila kalian berselisih dengan Zaid bin Tsabit dalam satu bagian dari Al Quran maka tulislah itu dengan bahasa Quraisy, karena Al Quran itu hanyalah di turunkan dengan bahasa mereka” demikian Imam Bukhari mengkisahkan.

(Baca JugaHafal Al Quran 30 Juz Dalam Waktu 40 Hari? Insya Alloh Bisa! Mau Tahu Caranya?)

Orang yang Pertama Kali Menuliskan Harokat dan Titik Pada Mushaf!

Ketauhilah bahwa keadaan mushaf Ustmani dahulu huruf hurufnya tidak bertitik, tidak berharokat dan tiada I’rabnya. Sebab ditinggalkanya i’rab saat itu-menurut pendapat ulama, karena mereka tidak membutuhkan i’rab pada masa pemerintahan Ustman. Mengapa?

Kerena mereka semuanya adalah orang orang Arab, mereka tidak mengenal salah baca dan tidak ada ilmu nahwu pada zaman mereka. Orang yang pertama kali menetapkan nahwu dan menyusun I’rab dalam mushaf adalah Abul Aswad Ad Dua’ali, seorang tabiin dari Basrah.

Di kisahkan bahwa dia mendengar seseorang membaca “أَنَّ ٱللَّهَ بَرِىٓءٌ مِّنَ ٱلْمُشْرِكِينَ ۙ وَرَسُولُهُۥ ۚ

Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang orang musrik dan dari Rasulnya (dengan huruf lam pada lafal Rasul berharokat kasrah) yang di maksudkan adalah QS At Taubah ayat 3. maka Abul Aswad memandang bahwa itu adalah kesalahan yang amat besar.
Dia berkata “Maha Mulia wajah Allah Taala dari berlepas diri dari Rasulnya” kemudian dia menetapkan I’rab pada Mushaf.

Tanda I’rab itu berupa titik dengan warna merah yang berbeda dengan warna tinta yang termaktub dalam mushaf. Tanda fathah adalah titik di atas huruf. Tanda dhammah adalah titik di depan huruf. Sedang tanda kasrahadalah titik dibawah huruf. Tanda ghunnah adalah dua titik.

Selanjutanya Al Khail bin Ahmad Al Farahidi membuat bentuk bentuk tanda huruf: Syaddad (tasdid) , mad, hamzah, serta tanda sukun dan tanda washal (teruskan bacaan) sesudah itu. kemudian I’rab berubah dari bentuk titik menjadi bentuk seperti yang ada sekarang ini.

Orang yang pertama kali meletakan titik (pada huruf) dalam mushaf adalah Nashr bin Ashim Al Laittsi, di bawah perintah Al Hajaj bin Yusuf, Sang Gubernur Irak dan Khurasan. Dia memerintahkan untuk meletakan tanda pada huruf huruf yang serupa, dan selanjutanya di laksanakan oleh Nashr bin Ashim Al Laitsi.

Dia menuliskan titik, baik tunggal maupun berpasangan lantas membeda-bedakan posisinya. Dialah orang pertama yag mengadakan titik pada huruf ya’ da ta’. Mereka berkata “itu tidak mengapa, karena itu adalah cahaya baginya”. Selanjutnya mereka juga mengadakan titik pada akhir ayat, lantas mereka membuat berbagai pembukaan dan penutupan.

Dengan demikian, Abul Aswad adalah orang pertama yang menentukan I’rab, kemudian Nashr bin Ashim adalah orang yang memberikan titik sesudahnya, lantas Al Khalil bin Ahmad adalah orang yang memindahkan I’rab menjadi bentuk seperti sekarang ini.

Adapun penetapan persepuluh (sepersepuluh juz) diriwayatkan bahwa Khalifah Al Makmun dari dinasti Bani Abbasiyah memerintahkan hal itu. Dikatakan pula bahwa Al Hajjaj yang melakukannya. Diriwayatkan juga bahwa Al Quran itu dibagi pada zaman Al Hajaj menjadi tiga puluh juz.

Demikian kami tuliskan bersumber dari kitab Mausuah Al Illaj bil Quran Wa Al Adzkar karya syaikh Sya’ban Ahmad Shalih dengan sedikit pengolahan. Semoga bermanfaat.

(Baca JugaHafal Al Quran 30 Juz Dalam Waktu 40 Hari? Insya Alloh Bisa! Mau Tahu Caranya?)

You might also like