QURANIY.ID
Pesantren Tahfidz Quran Indonesia

Rumus Mendidik Anak Agar Sholeh & Cerdas (2/2)

6

Orangtua muslim mana yang tidak ingin anak-anak mereka menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara pemikiran namun juga sholeh/sholehah dalam bertingkah laku. Banyak konsep dan cara yang dirumuskan dan dipraktekkan langsung oleh para orangtua untuk menghasilkan pribadi-pribadi yang cerdas dan sholeh tersebut. Salah satunya adalah penulis yang satu ini. Seperti apa rumusan beliau? Berikut artikelnya: – (Bagian 2 dari 2 tulisan)

Belakangan ini ada permasalahan yang cukup intensif saya pikirkan: bagaimana merumuskan parameter kesuksesan pada anak? Dengan semakin besarnya anak-anak, rupanya diperlukan perumusan ulang jawaban atas pertanyaan tadi. Untuk merefresh masalah pendidikan anak dan inisialisasi jawaban, saya membaca ulang kumpulan pemikiran yang sempat saya tuliskan di bawah ini.

(Baca Juga: Ingin Anak Anda Hafal Al Quran 30 Juz Dan Berbakti Kepada Orangtuanya? Upayakan Pendidikan Agama Mereka Disini!)

Anugerah dan Amanah

Anak merupakan anugerah termahal bagi orang tua. Banyak orang tua yang mengharapkannya tapi tak kunjung diberi, sementara banyak juga orang tua yang dengan mudah memperolehnya. Tapi, jangan pula merasa bangga dengan hadirnya anak, jika kita tak mampu membekalinya dengan pendidikan yang benar sesuai ajaran Islam. Karena, selain anugerah, anak juga merupakan amanah “berat” yang dititipkan Allah kepada orang tuanya, terlebih lagi di tengah-tengah merosotnya nilai-nilai etika, moral dan gencarnya serangan permisivisme (budaya serba boleh)melalui media elektoronik, tanggung jawab orangtua menjadi kian berat.

Anak memang anugerah, bahkan di dalam al-Qur’an dikatakan sebagai perhiasan hidup, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia…” (TQS. al-Kahfi : 46). Bayangkan, jika hidup kita tanpa perhiasan, semuanya akan terasa suram. Untuk itu kita patut bersyukur atas nikmat Allah yang dititipkannya melalui anak-anak kita. Rasa syukur itu dapat kita wujudkan dengan mengasuh dan mendidik mereka berlandaskan fitrah dan kasih sayang.

Selain sebagai anugerah, anak diberikan kepada orang tuanya sebagai amanah ”berat” untuk dipelihara, dididik dan dibina agar berkualitas dan tangguh. Seperti diperintahkan dalam al-Qur’an, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (TQS. an-Nisaa’ : 9).

Setiap orang tua harus menyadari amanah ini. Karena orang tualah yang bertanggungjawab terhadap pendidikan anak-anaknya. Jika orang tua tak memiliki kemampuan untuk mendidik, tanggungjawabnya memang dapat dibagi kepada guru di sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Namun peran sentral harus tetap pada orang tua. Caranya, orang tua dapat memilih guru atau sekolah untuk anak-anaknya dengan kriteria yang tepat. Misalnya, guru atau sekolah yang dipilih harus mampu membina anak-anak dengan berbagai disiplin ilmu atas dasar akidah, akhlak, dan ajaran Islam.

(Baca Juga: Ingin Anak Anda Hafal Al Quran 30 Juz Dan Berbakti Kepada Orangtuanya? Upayakan Pendidikan Agama Mereka Disini!)

Delapan Sisi Kecerdasan

“Didiklah anak-anakmu pada tiga perkara: mencintai Nabimu, mencintai ahli baitnya, dan membaca Al Quran.” (HR. ath-Thabrani).

 

gambar anak anak sedang belajar mengaji fullGambar anak-anak sedang belajar mengaji. Sumber: www.sehatfresh.com

Tiga hal yang diperintahkan Nabi untuk diajarkan kepada anak-anak kita terkait dengan puncak dan asas berbagai kecerdasan pada anak kita. Bisa jadi sebagian orang menyebut kecerdasan ini dengan kecerdasan spiritual atau kecerdasan relijius.

1.Teladani Nabi saw.

Memberikan teladan adalah metoda paling jitu dalam pendidikan anak. Karenanya memperkenalkan pribadi Nabi Muhammad saw sejak dini akan menjadi fondasi penting pembangunan akhlaq Islam pada anak-anak. Jadikanlah sosok Nabi itu hidup dalam benak mereka dan sangat mereka cintai. Tak ada pribadi yang lebih indah budi pekertinya daripada Nabi Muhammad saw.: “Dan engkau (Muhammad) sungguh berakhlaq mulia” (TQS. al Kalam:4).

Dengan menghadirkan pribadi Nabi dalam keseharian anak-anak, mereka akan lebih mudah melaksanakan akhlaq Islami, sebab ada sosok yang menjadi panutan di hadapan mereka. Menghadirkan sosok Nabi misalnya dapat dilakukan dengan mengisahkan betapa beliau pribadi yang penyayang kepada sesama manusia, betapa beliau amat penyantun (hilm), betapa beliau pemberani dalam membela kebenaran, betapa beliau taat kepada Allah dengan tekun beribadah dll.

2.Teladani Keluarga Nabi saw.

Keluarga Nabi adalah istri dan anak-anak beliau dan juga menantu beliau yang shalih. Tidak diragukan merekalah orang-orang terdekat dengan Nabi. Mereka pulalah orang-orang yang paling mencintai Nabi dan berusaha melanjutkan perjuangan Nabi dalam menyebarkan ajaran Islam.

Kisah tentang mereka pun akan menjadi inspirasi sangat berharga bagi anak-anak kita dalam meneladani Nabi. Mungkin kita mesti banyak menggali bagaimana Nabi ikut serta mendidik Hasan dan Husein, cucu beliau, yang bahkan kerap beliau anggap sebagai anak-anaknya sendiri. Tentu saja, kita pun mesti menggali kisah bagaimana Nabi dan Sayyidatinaa Khadijah ra. mendidik putri-putri mereka di masa kecilnya, yang bisa kita fahami dari petikan kisah Fatimah az Zahra ra., putri beliau. Pada masa kecilnya Fatimah menyaksikan bagaimana ayahandanya gigih mendakwahkan Islam dan tidak sedikit mendapatkan tentangan keras dari orang-orang.

Tentu juga kita dapat banyak belajar dari bagaimana Nabi mengasuh dan mendidik cucu beliau Hasan dan Husein -yang beliau anggap sebagai anak-anak sendiri-, di mana pada saat yang sama beliau memimpin umat Islam membangun masyarakat Islam di jazirah Arab.

3.Tilawah (Membaca) Al Quran,

Tilawah ini sangat penting artinya dalam pendidikan. Tilawah menjadi salah satu tugas Nabi dalam mendidik manusia (QS. Ali Imran:164). Tilawah artinya membaca. Untuk kalangan yang tidak berbahasa Arab, tentu saja tilawah yang benar mesti disertai usaha untuk mengetahui apa arti bacaan al Quran.

Untuk itu, dalam kaitan pendidikan anak, kita mesti mengusahakan agar anak kita mengetahui paling tidak makna-makna penting dari ajaran Islam sejak dini. Misalnya sejak kecil kita telah menanamkan aqidah yang benar; Memperkenalkan siapakan Allah dan bahwa Dia Pencipta segala sesuatu yang ada. Anak pun sejak dini diperkenalkan dengan ibadah shalat. Bahkan Nabi memberikan patokan usia 7 tahun sebagai usia di mana orang tua serius memperhatikan shalat anaknya dan ketika mencapai usia 10 tahun sudah boleh memberikan hukuman apabila si anak lalai dalam menunaikan sholatnya.

Allah swt secara khusus mengangkat dialog Luqman al-hakim dengan anaknya pada surat Luqman. Nasihat Luqman ini merupakan model dialog yang amat kaya dengan pesan spiritual. Di dalamnya terdapat pesan orang tua kepada anaknya untuk:

  1. Senantiasa bersyukur, berterima kasih kepada Allah atas segala karuniaNya;
  2. Tidak mempersekutukan Allah dengan siapapun: ikhlas dalam beribadah;
  3. Menghayati kasih sayang orang tua dan berterima kasih kepada mereka;
  4. Mengingat akan adanya hari di mana perbuatan sekecil apapun akan mendapat ganjaran dari Allah, Yang Mahalembut dan Maha Melihat;
  5. Menegakkan sholat dan menyuruh manusia berlaku benar dan mencegah mereka dari berbuat jahat (konsep menegakkan kebenaran dalam diri dan menyeru orang lain);
  6. Menghindari sikap sombong, perilaku angkuh dan berbangga-banggaan, karena hal ini tidak disukai Allah;
  7. Bersikap sederhana dalam berjalan dan lemah lembut dalam bertutur kata (dua sikap sehari-hari yang menjadi cerminan keseluruhan karakter diri).

Jadi, perintah mengajarkan “tilawah” ini dapat kita maknai sebagai pengajaran nilai ajaran Islam sejak dini kepada anak-anak ini.

Semoga bermanfaat.

Wa Allahu a’lam bish shawwab.

 

Disalin dan ditulis ulang dari artikel berjudul, “Rumus Mendidik Anak Agar Sholeh dan Cerdas“, 24 Juni 2015, oleh Afiful Ikhwan.

You might also like