QURANIY.ID
Pesantren Tahfidz Quran Indonesia

Pelajaran Berharga Dari Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail

8

Setiap tahun, kita merayakan Hari Raya Idul Adha. Dan setiap tahun pulalah kisah tentang seorang ayah bernama Ibrahim yang diuji oleh Tuhannya untuk mengorbankan putranya sendiri, Ismail, kita dengarkan. Lantas, pelajaran berharga apa yang dapat kita ambil sebagai seorang muslim?

 

Sang Bapak Para Nabi dengan kisah nyatanya sengaja Allah abadikan didalam Al Quran. Inilah kisah heroik seorang ayah dalam memilah dua cinta, yaitu cinta kepada Rabbnya, dan cinta kepada putra kesayangannya. Seperti Allah swt suratkan bahwa tiadalah mungkin ada dua ruang dalam satu hati (QS. al-Ahzab [33]: 4). Akan ada satu yang lebih unggul dibandingkan yang lain. Tapi ruang yang mana, itu adalah pilihan manusia sendiri.

Seperti kita tahu, Ibrahim as. memilih taat kepada Allah SWT. ia hempaskan cinta yang lain. Sekalipun ia begitu mencintai putranya, keturunan yang lama ia dambakan, yang pernah ia tinggalkan di gurun kering bersama istrinya, Hajar. Belum surut perasaan galau Ibrahim saat meninggalkan Ismail di tengah sahara hanya ditemani ibunya, kini Allah memintanya untuk menyembelihnya. Tapi Ibrahim tahu, percaya dan yakin, bahwa perintah Allah tak akan pernah sia-sia. Ibrahim juga tak pernah meragukan setitikpun sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayangnya Allah. Manalah mungkin Allah menzalimi hamba-Nya.

Kisah nyata Ibrahim dan Ismail – juga istrinya Hajar – bisa diambil pelajaran berharga dari berbagai sisi. Beragam sudut pandang. Salah satunya sikap seorang ayah kepada anak. Ibrahim as., sang ayah, mengajarkan kita bahwa tak ada ikatan yang abadi antara anak dengan ayah selain ikatan iman dan takwa. Ikatan darah, genetis, nasab mudah punah kapan saja.

Di berbagai negara, banyak kaum lanjut usia (lansia) yang sengaja ditelantarkan oleh anak-anak mereka. Jepang, salah satu negara yang menjadi kiblat kemajuan sains dan teknologi, termasuk bangsa yang kini mengalami krisis kasih sayang kepada orangtua. Menurut sebuah laporan karena banyak lansia yang ditelantarkan keluarga dan negara, 70 persen dari mereka terpaksa mencuri untuk memenuhi kebutuhan hidup.

 

(Baca Juga: Ingin Anak Anda Hafal Al Quran 30 Juz Dan Berbakti Kepada Orangtuanya? Upayakan Pendidikan Agama Mereka Disini!)

 

Di tanah air, tepatnya di Tangerang, seorang anak perempuan bersama suaminya menggugat ibunya yang sudah renta hingga 1 miliar rupiah, karena merasa tak mendapat jatah tanah waris (Sumber: Liputan6.com). Entah bagaimana perasaan ibu yang sudah merawatnya dan mengantarkannya hingga berumah tangga tapi kemudian digugat hingga sebanyak itu. Air susu dibalas air tuba.

Karenanya tak ada ikatan begitu kuat mengikat ayah dan anak melebihi ikatan iman dan takwa. Orang tua yang beriman dan bertakwa akan mengasuh anak tanpa pamrih, semata mengharap ridlo Allah. Anak yang beriman dan bertakwa tak akan pernah lupa kacang pada kulit. Meski tak akan pernah sanggup, ia akan berusaha membalas kebaikan kedua orang tuanya sesulit apapun.

Karena begitu sayang dan memuliakan ibunya, Usamah bin Zaid selalu menyisihkan kurma terbaik di antara berbagai kurma dagangannya untuk sang bunda. Ia bergeming meski orang-orang keheranan melihat perbuatannya, karena harga kurma-kurma itu amat mahal.

Ikatan nasab dan genetis ayah dan anak tak akan pernah selamanya. Di dunia apalagi di akhirat. Di Hari Kiamat anak-anak yang pernah dibanggakan kedua orang tua tak akan lagi ada gunanya di hadapan Allah.

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,” (TQS. asy-Syu’ara [26]: 88)

 

(Baca Juga: Ingin Anak Anda Hafal Al Quran 30 Juz Dan Berbakti Kepada Orangtuanya? Upayakan Pendidikan Agama Mereka Disini!)

 

Hanya ayah dan anak yang bertakwa yang akan Allah himpunkan bersama di dalam jannah-Nya. Tak ada yang lain kecuali mereka.

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”(TQS. ath-Thur [52]: 21)

Kita semua tentunya pasti ingin merasakan kebahagiaan itu kelak bukan?

Subhanalloh. Semoga kita bisa mengambil pelajaran berharga dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ini.

Wallohu a’lam bishshowab.

 

Dikutip dari artikel berjudul, “Ibrahim dan Ismail“, 7 Oktober 2014, oleh Iwan Januar.

You might also like