QURANIY.ID
Pesantren Tahfidz Quran Indonesia

Meraih Kenikmatan Hidup Di Dunia Dengan Al Quran

5

Betapa nikmatnya manakala kita telah mampu istiqomah berinteraksi dengan Al Quran. Nikmat membaca kalam–kalam-Nya, nikmatnya merasakan seakan-akan kita berbicara dengan-Nya, nikmat merasakan Al Quran mampu memberikan ruh dan petunjuk dalam tiap langkah kehidupan kita, nikmatnya Al Quran menjadi petunjuk pembeda antara yang benar dan yang salah, serta nikmat syafaat kelak bagi siapa yang ikhlas senantiasa membaca dan bersahabat dengan Al Quran, Insya Allah.

“Tidak boleh iri kecuali dalam dua kenikmatan: seseorang yang diberi Al Quran oleh Allah kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, dan orang yang diberi harta oleh Allah lalu ia membelanjakannya di jalan Allah sepanjang malam dan siang.” (Muttafaqun ‘alaih).

Melihat orang yang hartanya berlimpah tentu membuat kitapun mendambakannya. Hal itu lumrah dan fitrah sekaligus fitnah bagi manusia. Tetapi percayalah bahwa keimanan yang baik tidak saja menjadikan manusia memimpikan kepemilikan dunia tetapi juga memimpikan dan menginginkan akhirat. Dengan iman, ketika melihat orang lain yang memiliki kelebihan dalam urusan akhiratnya – misalnya sangat baik interaksinya dengan Al Quran, hafalannya banyak, rajin beribadah, serta banyak kontribusinya dalam dakwah – maka kita pun sangat mendambakannya.

Itulah yang dinamakan ghibthah, menginginkan kenikmatan orang lain tanpa membenci dan mengharapkan hilangnya nikmat dari orang tersebut.

(Baca Juga: Hafal 30 Juz Al Quran Dalam Waktu 40 Hari? Insya Alloh bisa! Mau Tahu Caranya?)

Berikut ini beberapa perasaan yang harus menjadi pertanyaan dan perhatian kita:

Adakah perasaan iri (ghibthah) dalam diri kita ketika melihat saudara kita memiliki kemampuan berinteraksi dengan Al Quran yang lebih baik? Ataukah hanya iri dan menginginkan sesuatu yang terkait dengan harta yang dimiliki saudara kita, tapi untuk Al Quran hati kita adem ayem saja?

Jika demikian adanya, itulah bukti lemahnya syu’ur Qurani (perasaan ingin membangkitkan diri dengan Al Quran). Para salafush shalih selalu berkompetisi dalam hal interaksi dengan Al Quran dan hal akhirat. Telah menjadi tabiat manusia untuk berkompetisi, dan jika tidak diarahkan maka kompetisi tersebut akan cenderung ke hal-hal duniawi seperti harta, jabatan dan lawan jenis.

Rasulullah saw. menjanjikan bahwa setiap orang beriman yang bersahabat akrab dengan Al Quran dijamin akan mendapat syafa’at dari Al Quran: “Bacalah Al Quran, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafa’at bagi orang-orang yang bersahabat dengannya.” (HR. Muslim).

Tanyakan pada diri kita masing-masing, sudahkan kita menjadi sahabat akrab Al Quran? Benarkah di akhirat nanti kita berharap akan mendapat syafa’at dari Al Quran? Alangkah sengsaranya kita bila di akhirat tanpa syafa’at, karena “…Tidak ada yang dapat memberi syafa’at kecuali atas seizin Allah…” (TQS Al-Baqarah [2]:255).

Kualitas iman kita diukur dengan sejauh mana kualitas dan kuantitas interaksi kita dengan Al Quran. Apakah kita masa bodoh dan tidak merasa sedih jika dalam sebulan tidak khatam Al Quran? Adakah perasaan sedih jika kita tidak punya hafalan ayat-ayat Al Quran? Sedihkah kita karena awam dengan kandungan dan makna Al Quran? Jika belum, dikhawatirkan bahwa kitalah yang disebut Rasulullah yang menjadikan Al Quran sebagai mahjuran.

“Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al Quran itu sesuatu yang diabaikan.’ “ (TQS Al-Furqan [25]:30).

(Baca Juga: Hafal 30 Juz Al Quran Dalam Waktu 40 Hari? Insya Alloh bisa! Mau Tahu Caranya?)

Pernahkah kita menghitung tentang berapa banyak informasi tentang hal-hal yang bersifat duniawi yang ada di kepala kita dibandingkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Al Quran? Jika tentang Al Quran lebih banyak maka bersyukurlah, jika tidak maka bertaubatlah kepada Allah swt. dan segera upayakan untuk kembali kepada Al Quran agar tidak dikecam Allah swt.:

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai.”

Sabda Rasulullah saw.: “Barangsiapa yang belajar Al Quran dan mengamalkannya akan diberikan kepada orang tuanya pada hari kiamat mahkota yang cahanya lebih indah daripada cahaya matahari. Kedua orang tua itu akan berkata, ‘Mengapa kami diberi ini?’ Maka dijawab, ‘Karena anakmu yang telah mempelajari Al Quran’ “ (HR. Abu DawudAhmad dan Hakim)

Tidakkah hadits tersebut menggugah kita sebagai orang tua untuk memberi perhatian yang lebih pada anak dalam hal pendidikan Al Qurannya? Bagaimana mungkin seorang anak dapat mencintai Allah swt. kalau tidak dapat menikmati shalat dengan baik?

Bagaimana mungkin dapat shalat dengan baik kalau kemampuannya dalam berinteraksi dengan Al Quran, khususnya hafalan, lemah dan terbatas? Jangan sampai kita hanya kecewa bila anak tak mampu berbahasa Inggris atau menggunakan komputer tetapi santai saja dengan keterbatasannya dengan Al Quran.

 

Isi Al Quran sesungguhnya menjelaskan bagaimana semua urusan dunia itu bisa mengantarkan manusia kepada suksesnya urusan akhirat. Kita, memang tidak ingin menjadi orang yang dekat dengan Al Quran hanya secara huruf-hurufnya saja tetapi jauh dari dari ruh Al Quran itu sendiri, Insya Allah.

Disalin dan ditulis ulang dari artikel berjudul, “Nikmat Berharta, Nikmat Berqur’an“, 6 Jan 2017, oleh Panjimas dari tulisan A. Rahmatullah Rahman (Alumni Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan).

You might also like