QURANIY.ID
Pesantren Tahfidz Quran Indonesia

Mengenal Istilah Qira’ah, Riwayah, dan Thariqah Qira’ah

3

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Sahabat Quran yang mudah-mudahan dirohmati Alloh swt.

Al Quran adalah kitab suci yang diturunkan secaramutawâtir, cara bacanya pun ada aturannya, maka pembaca harus memperhatikan dan bisa membedakan antara qirâ’ahriwâyah, dan tharîqah, sehingga tidak terjadi ikhthilâth (tumpang-tindih) bacaan yang menyebabkan jalur periwayatan menjadi tidak jelas dan tidah shahih. Mari kita belajar dengan tekun diiringi kesabaran dan istiqamah sehingga kita bisa membaca Al-Quran sesuai dengan jalur periwayatan yang benar dari Rasulullaah saw.

 

(BacaHafal Al Quran 30 Juz Dalam 40 Hari? Insya Alloh Bisa! Mau Tahu Caranya?)

 

QIRAAH

Digunakan untuk menerangkan suatu jenis bacaan yang dinisbatkan kepada salah satu imam Qiraah yang tujuh atau yang sepuluh.

Imam Qiraah yang 7 adalah: Nafi’, Ibnu Katsir, Abu Amr, Ibnu Amir, Ashim, Hamzah, dan Al-Kisai.

Imam Qiraah yang 3 sebagai pelengkap Qiraah 10 adalah: Abu Ja’far Al-Madani, Ya’qub Al-Hadhrami, dan Khalaf Al-Baghdadi.

Perlu diketahui bahwa mereka bukanlah membuat tatacara baru dalam membaca Al-Quran melainkan hanya menyampaikan apa yang diambil dari generasi sebelumnya sampai bersambung hingga Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Contoh perbedaan qiraat pada lafazh “mâliki yaumiddîn” pada Surat Al-Fâtihah. `Ashim (bersama Al-Kisâ’i) meng-itsbât-kan “alif” pada lafazh “mâliki” sehingga mim dibaca panjang (mad). Adapun imam lain (Nâfi`, Ibnu Katsîr, Abu `Amr, Ibnu `Amîr, dan Hamzah) membuang/tidak memakai “alif” (hadzfu alif) setelah huruf “mim” sehingga dibaca “maliki” pendek/tanpa mad (sama seperti lafazh “malikin-nâs” pada Surat An-Nâs).

RIWAYAH

Digunakan untuk menerangkan penisbatan ulama yang meriwayatkan Qiraah yang diambil dari salah satu imam yang tujuh atau sepuluh.

Setiap satu Qiraah memiliki 2 periwayat yang meriwayatkan bacaan darinya.

  1. Perawi Imam Nafi adalah: Qalun dan Warsy
  2. Perawi Imam Ibnu Katsir: Al-Bizzi dan Qunbul
  3. Perawi Imam Abu Amr: Ad-Duuri dan As-Suusi
  4. Perawi Imam Ibnu Amir: Hisyam dan Ibnu Dzakwan
  5. Perawi Imam Ashim: Hafsh dan Syu’bah
  6. Perawi Imam Hamzah: Khalaf dan Khallad
  7. Perawi Imam Al-Kisai: Abu Harits dan Ad-Duuri Kisai
  8. Perawi Imam Abu Ja’far: Ibnu Wardan dan Ibnu Jimas
  9. Perawi Imam Ya’qub: Ruwais dan Rauh
  10. Perawi Imam Khalaf : Ishaq dan Idris

 

(Baca JugaHafal Al Quran 30 Juz Dalam 40 Hari? Insya Alloh Bisa! Mau Tahu Caranya?)

 

PERBEDAAN RIWAYAT (Misal pada Qiraah ‘Ashim)

Antara bacaan Syu`bah dengan Hafsh ada persamaan dan adapula perbedaan. Menurut atsar, imam `Ashim menerima bacaan (talaqqi) diantaranya dari Abu `Abdurrahman As-Sulami dan dari Zar bin Hubaisy. Abu `Abdurrahman As-Sulami membaca dari `Ali bin Abi Thalib; Zar bin Hubaisy membaca dari `Abdullah bin Mas`ud. `Ali dan Ibnu Mas`ud menerima dari Rasulullah. Imam `Ashim mengajarkan bacaan dari jalur Abu `Abdurrahman (dari `Ali dari Nabi) kepada imam Hafsh. Sedangkan imam Syu`bah diajarkan bacaan dari jalur Zar bin Hubaisy (dari Ibnu Mas`ud dari Nabi).

Jika kita membaca yang mana imam Syu`bah dan imam Hafsh sepakat (tidak terjadi perbedaan), misalnya Surat Al-Fatihah, maka kita dapat mengklaim bacaan kita sebagai “qira’ât `Ashim”. Tetapi apabila kita membaca yang mana antara Syu`bah dan Hafsh terdapat khilâf, maka bacaan tersebut harus dijuluki sebagai “Riwâyat”. Contoh perbedaan Syu`bah dan Hafsh adalah pada perkara saktah dan tashîl. Hafsh memakai saktah pada empat tempat (Surat Al-Kahfi, Yâsîn, Al-Qiyâmah, dan An-Nâzi`ât) serta tashîl pada Surat Fushshilat ayat 44. Sedang Syu`bah tidak memakai saktah dan tashil. Artinya bila kita sedang membaca dengan madzhab `Ashim kemudian menggunakan saktah dan tashîl maka bacaan kita merupakan “riwayat Hafsh `an `Ashim”. Namun bila kita tidak menggunakan saktah maupun tashil maka bacaan kita adalah “riwayat Syu`bah `an `Ashim”.

THARIQAH:

Istilah ini digunakan untuk menerangkan apa-apa yang dinisbatkan kepada Ulama yang menukil dari para perawi.

Qiraah yang masyhur dan telah terbukti shahih jalur periwayatannya ada sepuluh. Setiap Qiraah memiliki 2 Riwayat, dan setiap Riwayat memiliki kurang lebih 50 Thariqah (Jalur).

Baik “qira’ât”, “riwâyât”, maupun “tharîq” merupakan khilâf wâjib. Artinya perbedaan itu harus kita kenali dan ketahui serta dipraktekkan bagi bacaan yang kita gunakan. Penetapannya bergantung pada apa yang diterima dari talaqqi kepada guru Al-Quran serta validitas sanadnya. Seperti itulah keabsahan bacaan Al-Quran sebagaimana ia diajarkan dengan metoda musyafahah bersambung secara mutawâtir. Dengan demikian tegaslah bahwa bacaan kita adalah bacaan yang benar dan bersumber dari Rasulullah saw.

Yang masyhur pada bacaan kaum muslimin di Indonesia adalah Qiraah Imam ‘Ashim Riwayat Imam Hafsh Jalur Syathibiyyah. Di antara ciri jalur Syathibiyyah adalah memba
ca mad jaiz sama dengan mad wajib, yakni empat atau lima harakat. Sedangkan pada jalur yang lain, mad jaiz boleh dibaca 2, 3, 4, atau 5 dan mad wajib bisa dibaca 4, 5, atau 6. Namun, bila kita ingin membaca dengan jalur yang lain, kita mesti memahami kaidah-kaidah yang berlaku pada jalur tersebut, sehingga kita tidak terjatuh pada kesalahan dan pencampuradukan jalur.

Setidaknya ada sekitar 21 poin perbedaan yang mesti kita pahami sebelum memilih jalur dalam membaca Al-Quran, di antaranya yakni: mad jaiz, wajib, pada kata yabshut, bashthah, firqin, dha’fin, mushaythirun, bimushaythir, dan salasila, kemudian ghunnah pada idgham Lam & Ra, Isymam pada “Laa Ta’manna”, Bacaan pada Mad Farq, Mad pada ‘Ain Harfiy, Saktah, dan Takbir.

 

Demikianlah sedikit informasi tentang istilah Qira’ah, Riwayah, dan Thariqah Qira’ah dalam ilmu Al Quran. Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam bishshowab.

Dikutip dari artikel berjudul, “MENGENAL QIRAAH, RIWAYAH, DAN THARIQAH“.

You might also like