QURANIY.ID
Pesantren Tahfidz Quran Indonesia

Janji Pertolongan

15

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (TQS Muhammad [47]: 7)

Datangnya kemenangan merupakan dambaan setiap Mukmin. Namun sayangnya, tidak semua orang mengetahui jalan untuk meraihnya. Akibatnya, mereka justru melakukan tindakan yang men-jauhkan diri dari kemenangan. Ada juga yang telah berjuang dengan benar. Namun ketika kemenangan tidak kunjung tiba, mereka berbelok dan mengambil langkah pragmatis. Alih-alih pertolongan, mereka justru terjerumus kepada kemaksiatan dan kekalahan.

Kemenangan kaum Muslim sesungguhnya merupakan per-tolongan Allah SWT. Agar mendapat pertolongan-Nya, sejumlah ketentuan yang ditetapkan Allah SWT harus dipenuhi. Ayat di atas membe-rikan panduannya kepada kaum Muslim.

Janji Pertolongan

Allah SWT berfirman: Yâ ayyuhâ al-ladzîna âmanû in tanshurûl-Lâh (hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong [agama] Allah). Khithâb atau seruan ayat ini ditujukan kepada kaum Mukmin. Mereka diberikan kabar gembira apabila bersedia ‘menolong Allah’.

Ungkapan tersebut tentu bukan bermakna hakiki. Sebab, Allah SWT tidak membutuhkan pertolongan hamba-Nya. Justru Dia-lah yang berkuasa menolong dan memenangkan hamba-Nya sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: wa mâ al-nashr illâ min ‘indil-Lâh al-‘Azîz al-Hakîm (dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana; (TQS Ali Imran [3]: 126). “Dia pula yang mengalahkan dan menghinakan siapa pun yang dikehendaki-Nya” (lihat QS Ali Imran [3]: 26).

Sebagaimana dijelaskan Abu Hayyan al-Andalusi dalam Tafsîr al-Bahr al-Muhîth, ungkapan ‘menolong Allah’ tersebut bermakna menolong agama-Nya. Di samping agama, juga menolong rasul-Nya. Demikian Ibnu al-Jauzi, al-Zamakhsyari, al-Baidhawi, dan Syihabuddin al-Alusi dalam kitab tafsir mereka.

Dipaparkan Abdurrahman al-Sa’di, amaliyyah praktis ‘menolong Allah’ adalah dengan melaksanakan agama-Nya, berdakwah kepadanya, dan berjihad melawan musuh-musuhnya, yang kesemuanya dilakukan dengan niat ikhlas karena-Nya. Penjelasan senada juga disampaikan oleh Abdul Lathif ‘Uwaidhah dalam Haml al-Da’wah Wâjibât wa Shifât. Bahwa ungkapan ‘menolong Allah’ itu meliputi: mengimani syariah yang dibawa Rasul, berpegang teguh dengan hukum-hukum dibawa, mentaati perintah, dan menjauhkan larangan-Nya.

Apabila amal tersebut sudah dilakukan, maka: yanshur-kum (niscaya Dia akan menolongmu). Oleh al-Syaukani dalam Fath al-Qadîr frasa ini dimaknai, Allah SWT akan menolong kalian atas kaum kafir dan memberikan kemenangan kepada kalian. Jika pengertian menolong agama Allah SWT dimaknai secara luas sebagaimana diungkap Abdul Lathif di atas, maka pertolongan itu juga meliputi cakupan yang luas. Siapa pun yang hendak menjalankan syariah-Nya, maka Allah SWT akan menolong dan membantunya. Al-Alusi menyatakan, ayat ini memberikan makna bahwa Allah SWT menguatkan dan memberikan taufik kepada kalian untuk langgeng dalam ketakwaan.

Di samping itu juga: wayutsabbit aqdâmakum (dan meneguhkan kedudukanmu). Kata aqdâm merupakan bentuk jamak dari kata qadam yang berarti kaki bagian bawah. Sekalipun yang disebutkan hanya kakinya, akan tetapi yang dimaksudkan adalah keseluruhan diri penolong agama Allah. Ibnu Jarir al-Thabari menjelaskan frasa tersebut, “Allah akan menguatkan kalian atas mereka dan membuat kalian menjadi berani hingga tidak lari meng-hadapi mereka, kendati jumlah mereka banyak dan jumlah kalian sedikit.

Selain ayat ini, janji tersebut juga disampaikan dalam firman Allah SWT: “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (TQS al-Hajj [22]: 40).

Syarat Pertolongan

Patut ditegaskan bahwa al-nashr (pertolongan) itu mutlak di sisi Allah SWT. Tidak ada seorang pun yang dapat mendatangkan atau menolaknya; memajukan atau menundanya. Para rasul sekali pun tidak bisa menentukan sendiri kapan dan dengan cara apa pertolongan itu datang. Di antara buktinya, ketika kaum Muslim ditimpa cobaan amat dahsyat, lalu mereka bertanya kepada Rasulullah SAW kapan pertolongan akan datang, beliau saw. hanya menjawab: Alâ inna nashral-Lâh qarîb (ingatlah, sesungguhnya pertolongan itu amat dekat; lihat QS al-Baqarah [2]: 214). Andai beliau bisa mendatangkan petolongan dan menentukan sendiri waktunya, tentu jawaban beliau tidak begitu.

Meskipun demikian, Allah SWT Yang Mahakuasa telah menetapkan syarat bagi hamba yang ingin mendapat pertolongan-Nya. Sebagaimana diberitakan ayat ini, syaratnya adalah menolong agama-Nya. Dengan kata lain, harus terikat dengan akidah dan syariah-Nya secara keseluruhan tanpa terkecuali. Pelanggaran sedikit saja terha-dap perkara tersebut, bisa men-jauhkan diri dari pertolongan Allah SWT. Kasus Perang Hunain bisa menjadi pelajaran berharga. Pada perang itu, pasukan umat Islam sempat lari tunggang langgang digempur musuh dan hampir menderita kekalahan. Hal itu disebabkan karena ada sebagian orang yang menduga bahwa jumlah pasukan yang banyak menjadi sebab keme-nangan (lihat QS al-Taubah [9]: 25).

Di samping aspek kewajiban syar’i, harus pula dilakukan berbagai persiapan dan cara yang benar sesuai dengan keperluannya. Dalam perang misalnya, selain melaksanakan kewajiban syar’i, juga harus dilakukan berbagai persiapan, persenjataan, dan strategi militer yang dapat menggentarkan musuh (lihat QS al-Anfal [8]: 80). Demikian juga dalam dakwah. Selain ketaatan terhadap syariah, gerakan dan pengemban dakwah juga harus menggunakan uslûb (cara) dan wasîlah (sarana) yang mendukung tercapainya tujuan tersebut. Peristiwa Perang Uhud bisa menjadi pelajaran dalam perkara ini. Karena sebagian di antara mereka–yakni pasukan pemanah yang ber-tugas di atas bukit–tidak disiplin terhadap uslub yang telah ditetapkan Rasulullah SAW, kemenangan yang sudah hampir di tangan terpaksa harus gagal.

Inilah syarat-syarat yang harus direalisasikan kaum Muslim untuk mendapatkan pertolongan-Nya. Oleh karena itu, jika kaum Muslim hingga kini belum juga mendapatkan pertolongan-Nya, perlu dilaku-kan evaluasi: sudahkah semua syarat tersebut sudah dipenuhi. Jika jawabannya belum, harus segara dilakukan perbaikan. Namun jika semua syarat ini sudah dipenuhi, maka bersabar dan bertawakkallah kepada-Nya. Insya Allah pertolongan-Nya segera tiba. Jangan sekali-kali berputus asa, apalagi berbelok arah dan mengambil langkah pragmatis yang dianggap lebih jitu.

Akhirnya, hanya kepada-Nyalah kita berharap perto-longan. Sebab Allah SWT berfirman: “Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal” (TQS Ali Imran [3]: 160). Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.[mediaumat.com]

Dikutip dan ditulis ulang dari artikel berjudul, “Menjemput Pertolongan Allah“, 11 Mei 2009, oleh Rokhmat S. Labib, M.E.I

You might also like