QURANIY.ID
Pesantren Tahfidz Quran Indonesia

Hendak Dibawa Kemanakah Ilmu Yang Telah Kita Pelajari?

4

Sebagai seorang muslim menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban yang sudah banyak difahami. Namun, dengan setapak demi setapak jalan yang dilalui dalam menuntutnya, apakah membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik, atau justru menjerumuskan kita menjadi hamba yang “hina”? Subhanalloh. Sebuah renungan menyentuh hati bagi jiwa-jiwa yang haus dalam mencari ilmu, insya Alloh.

Betapa agungnya ilmu, betapa hebatnya belajar, dan betapa mulianya mengajar.

“Menuntut ilmu karena Allah adalah bukti ketundukan pada-Nya”, ujar Mu’adz ibn Jabal ra. “Mempelajarinya dari seorang guru adalah ibadah. Melangkah menuju majelisnya adalah pembuka jalan surga. Duduk di tengah kajiannya adalah Taman Firdaus. Membahasnya adalah bagian dari jihad. Mengajarkannya adalah tasbih. Menyampaikannya kepada orang yang belum tahu adalah shadaqah. Mencurahkannya kepada orang yang berhak menerimanya adalah qurbah.”

Tapi di setiap jalan keluhuran manusia, setan juga berjaga-jaga. Maka pada perkara seindah mengajipun, kita seharusnya waspada. Mari berhenti sejenak untuk bertanya, kemana buku yang kita baca, kajian yang kita cerna, dan ilmu yang kita kaji ini membawa?

Apakah mengaji ini membawa kita pada perasaan “Ana khairun minhu (saya lebih baik daripada dia)”, hingga kita merasa paling berada di atas kebenaran, paling berhak atas ridha dan surga-Nya, lalu menganggap diri lebih utama dan memandang sesama remeh dan hina?

Subhanalloh. Yang seperti ini ada pendahulunya, dengan ibadah yang tak tertandingi di langit, tapi akhirnya terlaknat sepanjang masa.

“Berkata Iblis, ‘Aku lebih baik daripada dia..” (TQS. Al A’raaf: 12)

Ataukah mengaji ini membawa kita pada perasaan “Robbanaa zhalamnaa anfusanaa.. (Duhai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri..)”, lalu kita kian menginsyafi aneka kekurangan diri, merasa betapa lemahnya kita, betapa mudah jatuh dalam dosa, serta betapa faqir akan ampunan dan rahmat-Nya?

Masya Alloh; yang seperti ini ada pendahulunya, dimuliakan di atas para malaikat, dipilih di antara semesta, menjadi bapak yang membawa keturunannya mewarisi bumi dunia. Dia bermaksiat, tapi bertaubat, menjadikan cinta Allah padanya berlipat-lipat.

“Berkata Adam dan Hawa, ‘Duhai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Andainya Kau tak mengampuni dan mengasihi kami, niscaya kami termasuk mereka yang rugi.” (TQS. Al A’raaf: 23)

Lalu apakah mengaji ini membawa kita pada perasaan, “Innamaa utiituhu ‘alaa ‘ilmin ‘indii.. (Aku diberi segala kelimpahan ini karena ilmu yang ada padaku)”; hingga kita menyangka kitalah makhluk paling utama, dengan titian hidup paling gemerlap, dan sesama dengan berbagai deritanya adalah karena dosa mereka yang lebih banyak atau ibadah yang lebih sedikit?

Subhaanallaah, yang seperti ini ada pendahulunya, dengan perbendaharaan yang kunci-kuncinya tak dapat dipikul orang-orang perkasa, tapi terbenamnya dia ke bumi menjadikan namanya abadi sebagai sebutan untuk harta temuan yang tergali.

“Berkata Qarun, ‘Sesungguhnya aku diberi segala kelimpahan ini disebabkan oleh ilmu yang ada padaku..” (TQS. Al Qashash: 78)

 

(Baca Juga: Hafal 30 Juz Al Quran Dalam Waktu 40 Hari? Insya Alloh bisa! Mau Tahu Caranya?)

Ataukah mengaji ini membawa kita pada keinsyafan, “Haadzaa min fadhli Rabbi, liyabluwani a asykuru am akfur.. (Ini semata-mata adalah karunia dari Tuhanku; untuk menguji diriku apakah aku mampu bersyukur ataukah justru akan kufur)”; bahwa bertambahnya nikmat adalah juga kenaikan jenjang ujian yang membuat kita harus kian peka menyembahkan kehambaan?

Masya Alloh yang seperti ini ada pendahulunya, dialah raja dunia yang tak hanya berkuasa atas manusia, tapi juga hewan, burung, jin, serta angin; tapi kerendahan hatinya pada Sang Pencipta membuatnya menjadi buah bibir sejarah.

“Berkata Sulaiman, “Ini semata-mata adalah karunia dari Tuhanku; untuk menguji diriku apakah aku mampu bersyukur ataukah justru akan kufur.” (TQS. An Naml: 40)

Juga, apakah mengaji kita membuat kita ingin diakui dan disebut-sebut dalam gelar megah, seperti ucapan, “Innii Anal ‘Aziizul Kariim.. (Sungguh aku ini orang perkasa lagi mulia)”?

Subhaanallaah, yang seperti ini ada pendahulunya. Lelaki yang tak menyangkal kejujuran Rasul mulia, yang tahu benar kebenaran di pihak siapa, namun demi kepentingan dan harga diri lebih memilih membutakan hati, memusuhi, dan binasa dalam api, hingga Allah memuaskan siksa itu baginya dengan gelar yang dipilihnya. Pada Abu Jahl dikatakan:

“Rasakan ‘adzab ini, sungguh engkau lelaki perkasa lagi mulia!” (TQS. Ad Dukhaan: 49)

Ataukah mengaji ini membuat kita kian merasa berhajat pada Allah, bersangka baik pada-Nya, dan bersandar sepenuhnya hingga berkata, “Rabbii innii limaa anzalta ilayya min khairin faqiir.. (Duhai Tuhanku, sungguh aku terhadap apa yang Kauturunkan di antara kebaikan amat sangat memerlukan)”?

Masya Alloh; yang inipun ada pendahulunya, seorang yang sejatinya sungguh perkasa, tepercaya, lagi mulia, yang di tengah takut, lelah, dan laparnya masih bisa menawarkan bantuan pada sesama lagi sama sekali tak meminta terimakasih dan balasan dari mereka. Cukup Allah baginya.

“Berkata Musa, ‘Duhai Tuhanku, sungguh aku terhadap apa yang Kau turunkan di antara kebaikan amat sangat memerlukan.” (TQS. Al Qashash: 24)

Kemudian apakah mengaji ini membuat kita terjangkit keinginan menyingkirkan, “Layuhrijannal a’azzu minhal adzall.. (Sungguh orang mulia ini akan mengeluarkan orang hina..)”; sebab kita merasa lebih berhak atas apa-apa, mana-mana, atau sesiapa di dalam perlombaan yang semu maupun yang nyata?

Subhaanallaah; yang inipun ada pendahulunya, bagai pokok kayu tersandar, memikat bicaranya, mempersaksikan isi hatinya dengan sumpah bermadah, tapi sebenarnya hatinya luka, penyakit tumbuh di sana, permusuhan dinyalakan apinya, kejahatan dibalut sutra, dan dia mengira tiap teriakan keras ditujukan padanya. Dialah pemuka kaum munafiq Madinah, Abdullah ibn Ubay ibn Salul.

“Berkata, ‘Jika kita kembali ke Madinah, maka sungguh orang mulia ini pasti akan mengeluarkan orang hina itu.” (TQS. Al Munafiqun: 8)

(Baca Juga: Hafal 30 Juz Al Quran Dalam Waktu 40 Hari? Insya Alloh bisa! Mau Tahu Caranya?)

Ataukah mengaji menjadikan cita kita sederhana tapi penuh kerendahan hati, “Tawaffanii musliman, wa alhiqnii bish shaalihiin.. (Ya Allah, wafatkan aku sebagai seorang muslim yang berserah diri, dan himpunkan aku bersama orang-orang yang shalih)”; merasa tak pantas menjadi orang shalih, hanya karena rahmat Allah maka teranugerahi nikmat dihimpun bersama mereka.

Masya Alloh, yang inipun ada pendahulunya, seorang bernasab terbaik, yang lika-liku hidupnya dalam Al Quran dikisahkan sebagai cerita terbaik, dengan pengisahan terbaik.

“Berkata Yusuf putra Ya’qub putra Ishaq putra Ibrahim, ‘Ya Allah, wafatkan aku sebagai seorang muslim yang berserah diri, dan himpunkan aku bersama orang-orang yang shalih.” (TQS. Yusuf: 101)

Dan apakah mengaji ini menjadikan kita suka berkata, “Maa uriikum illaa maa araa, wa maa ahdiikum illaa sabiilar rasyaad.. (Aku tidak mengemukakan kepadamu melainkan apa yang kupandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar)”; sebab ilmu yang dikhazanahi membuat kita merasa mengetahui segala hal padahal ia nafsu diri?

Subhaanallaah; yang seperti ini ada pendahulunya, abadi sebagai puncak kesombongan manusia, menjadikan diri sebagai tuan maha tinggi, lalu menganggap dia berhak memaksakan mana yang benar dan mana yang batil.

“..Berkata Fir’aun, ‘Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.” (TQS. Ghaafir: 29)

Ataukah mengaji ini membuat kita mampu menghargai bahkan si kecil dalam perintah Allah yang mutlak sekalipun, “Ya Bunayya, innii araa fil manaamii annii adzbahuka fanzhur madzaa taraa.. (Duhai putraku, kulihat dalam mimpi perintah Allah untuk menyembelihmu, cobalah kemukakan apa yang jadi pandanganmu)”; yakni sepenuh hati memahami bahwa agama harus tegak di atas pemahaman dan tiada manfaat untuk memaksakan pengertian kita yang sungguh keshahihannya jauh dibanding mimpi di atas.

Sungguh inipun ada pendahulunya, seorang Kekasih Ar Rahman yang lulus terus dalam berlapis-lapis ujian cinta. Dia meyakini perintah Tuhannya, tapi betapa berharganya musyawarah dengan siapapun yang terdampak perintah itu.

“Berkata Ibrahim, ‘Duhai putraku, kulihat dalam mimpi perintah Allah untuk menyembelihmu, cobalah kemukakan apa yang jadi pandanganmu.” (TQS. Ash Shaaffaat: 102)

Semoga Allah membimbing ilmu kita, belajar kita, mengajar kita; agar mengaji ini membawa kita menyusuri jalan cahaya Adam, Sulaiman, Musa, Yusuf, serta Ibrahim; bukan lorong gelap Iblis, Qarun, Abu Jahl, ‘Abdullah ibn Ubay, serta Fir’aun.

“Dan katakanlah wahai Muhammad, ‘Duhai Tuhanku, tambahkanlah padaku ilmu.” (TQS. Thaaha: 114). 

Disalin dan ditulis ulang dari artikel berjudul, “Kemana Ilmu Membawa Kita?“, 19 Mei 2016, oleh Hidayatullah bersumber dari Facebook Fanpage dan Twitter Salim A Fillah.

You might also like