QURANIY.ID
Pesantren Tahfidz Quran Indonesia

fBagikan 3 Save Dosa-dosa Syirik Yang Tidak Banyak Disadari Seorang Muslim

9

Syirik sebagai sebuah dosa besar merupakan suatu perkara yang banyak diketahui oleh kaum muslim. Namun, dari sekian banyak aktivitas yang tergolong perbuatan syirik, ada perbuatan syirik yang tidak banyak disadari oleh seorang muslim. Apakah perbuatan tersebut?

Allah swt. telah mewajibkan sejumlah perkara yang tidak boleh dilalaikan; menetapkan sejumlah huduud (batasan-batasan) yang tidak boleh dilanggar; dan mengharamkan sejumlah perkara yang tidak boleh dilakukan. Hal-hal haram (al muharromaat) adalah termasuk diantara huduud yang tidak boleh dilanggar.

Allah swt. berfirman:

“Siapa saja yang melanggar huduud Allah, sungguh dia telah menzalimi dirinya sendiri.” (TQS. ath Thalaq: 1)

Allah swt. bahkan mengancam orang yang melanggar batas-batas-Nya, sebagaimana firman-Nya:

“Siapa saja yang berbuat dosa kepada Allah dan Rasul-Nya serta melanggar huduud-Nya, Dia akan memasukkan dirinya ke dalam neraka; dia kekal di dalamnya dan dia mendapatkan azab yang menghinakan” (TQS. an-Nisa’: 14)

Karena itu menjauhi dosa dan keharaman adalah sebuah kewajiban, sebagaimana sabda Rasulullah saw.,

“Apapun yang kami larang, jauhilah. Apapun yang kami perintahkan, lakukanlah semampu kalian.” (THR Muslim)

Meski demikian, kenyataannya masih banyak kaum muslim yang menyepelekan urusan halal-haram ini. Di antara perkara haram yang wajib dijauhi oleh setiap muslim adalah dosa syirik. Syirik termasuk dosa besar. Pelakukan tidak akan diampuni dosanya jika dia mati dalam kesyirikan, sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan akan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa saja yang Dia kehendaki.” (TQS. an Nisa’: 48)

Rasulullah saw. pun pernah bertanya, “Maukah kalian aku kabari dosa yang paling besar?” Para sahabat menjawab, “Tentu, ya Rasulullah.” Beliau saw. bersabda, “Menyekutukan Allah (syirik)” (THR al Bukhari dan Muslim).

Banyak perilaku syirik yang tersebar luas di tengah-tengah masyarakat. Tidak sedikit diantaranya yang terjerumus menyembah makam/kuburan, misalnya. Padahal Allah swt. telah dengan tegas memerintahkan seorang muslim untuk hanya beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman Allah swt.:

“Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian hanya menyembah Dia.” (TQS. al Isra’: 3)

Yang juga menjurus pada bentuk kesyirikan, adalah: sihir, perdukunan, meyakini ramalan nasib, dsb. Namun demikian, ada bentuk syirik lain yang tidak banyak disadari oleh kebanyakan muslim, yaitu dengan tindakan melakukan tasyrii (menetapkan hukum halal-haram) dengan sebuah keyakinan bahwa manusia berhak menetapkan hukum sendiri diluar syariah dan ketentuan dari Allah swt. Padahal dalam Islam, hak memutuskan halal dan haram jelas-jelas berada di tangan Allah swt. Allah swt. mengecam sikap sedemikian dengan firman-Nya:

“Apakah mereka memiliki sekutu yang mensyariatkan untuk mereka dari agama ini sesuatu yang tidak Allah izinkan?” (TQS. asy Syura: 21)

Allat swt. pun mengecam keras orang yang berbicara halal dan haram berlandaskan hawa nafsunya (kesenangan) mereka sendiri, alih-alih berdasarkan Al Quran dan As Sunnah. Allah swt. berfirman:

“Janganlah kalian mensifati dengan lisan-lisan kalian yang penuh kebohongan bahwa ini halal dan ini haran, dengan maksud mendustakan Allah.” (TQS an Nahl: 116)

Lebih dari itu, saat manusia menaati hukum-hukum buatan manusia yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah swt., hakikatnya mereka sedang ‘menyembah’ atau menghambakan diri kepada manusia pembuat hukum tersebut. Padahal ini tegas diharamkan oleh Allah swt., melalui firman-Nya:

“Kaum Yahudi dan Nashrani telah menjadikan para rahib dan para pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” (TQS. at Taubah: 31)

Ketika Adi bin Hatim mendengar Rasulullah saw. membacakan ayat ini, ia berkomentar, “Mereka (Yahudi dan Nashrani) tidaklah menyembah para rahib dan pendeta mereka.” Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Akan tetapi, para rahib dan pendeta itu telah menghalalkan apa yang telah Allah haramkan, lalu kaum mereka pun menghalalkannya. mereka pun telah mengharamkan apa yang telah Allah halalkan, kemudian kaum merekan pun mengharamkannya. Itulah bentuk penyembahan (penghambaan) kaum Yahudi dan Nashrani itu kepada para rahib dan para pendeta mereka.” (Al Baihaqi, As Sunan al Kubraa, 10/116).

Alhasil, ketundukan kepada hukum-hukum buatan manusia yang jelas-jelas bertentangan dengan syariah Allah swt. bisa menjerumuskan seorang muslim kepada kesyirikan. Tentu ini merupakan sebesar-besarnya dosa kepada Allah swt. Namun sangat disayangkan, perkara ini tidak banyak disadari oleh kebanyakan kaum muslim saat ini.

Wa maa tawfiiqii illaa billaah.

Dikutip dan ditulis ulang dari artikel berjudul, “Dosa Syirik Yang Tidak Disadari”, tulisan Arief B Iskandar.

You might also like