QURANIY.ID
Pesantren Tahfidz Quran Indonesia

Al Quran: Petunjuk Dan Penjelas Segala Sesuatu (II/II)

2

Mengapa Al Quran disebut sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw. dan petunjuk bagi umat manusia serta penjelas segala sesuatu? Berikut penjelasannya (bagian II dari II tulisan):

Sebagai seorang muslim yang mengimani Allah SWT sebagai Pencipta dan Pengatur Hidup Manusia, tentulah wajib juga mengimani apa-apa yang Allah SWT kabarkan di dalam Al Quran, sebab Al Quran merupakan kalamullah (perkataan Allah SWT). Tidak akan meragu dengan apa-apa yang Allah SWT firmankan di dalamnya, sebagaimana dalam TQS. Al Baqarah (2): 2 bahwa “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”.

“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (TQS. An Nahl (16): 89)

(Baca Juga: Hafal Al Quran 30 Juz Dalam 40 Hari? Insya Alloh Bisa! Mau Tahu Caranya?)

Al Quran: Penjelas Segala Sesuatu
Menarik dan sependapat dengan pernyataan Syarbaini Abu Hamzah, penulis buku Melawan Dengan Cinta, co-founder Penerbit Mabda bahwa “Jika isinya hanya tentang syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji, tentu Al Quran tidak akan setebal ini. Tetapi Al Quran lebih dari itu, ia diturunkan untuk menyelesaikan semua masalah kehidupan manusia. Dari urusan bangun tidur, hingga bangun negara.”

Di dalam banyak ayat-Nya, Allah SWT telah mengenalkan Al Quran sebagai petunjuk, pedoman hidup, kabar (gembira dan peringatan), rahmat, dan bahkan penjelas segala sesuatu. Di dalamnya terdapat seperangkat aturan hidup untuk manusia atau hukum-hukum syara’ secara keseluruhan, berkaitan dengan perkara ibadah, mu’amalah, ‘uqubat (sanksi) ataupun math’umat (yang berkaitan dengan makanan). Dari sini, dapat kita katakan bahwa Al Quran mengatur tiga dimensi kehidupan manusia, yaitu hubungan manusia dengan Penciptanya (terkait akidah dan ibadah), hubungan manusia dengan dirinya (terkait makanan, minuman, pakaian serta akhlak) serta hubungan manusia dengan sesama manusia (terkait perkara muamalah dan ‘uqubat). Berikut beberapa dalil, diantaranya:

“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” (TQS. Al Baqarah (2): 110)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (TQS. Al Baqarah (2): 183).

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnyake seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (TQS. Al Ahzab (33): 59).

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (TQS. Luqman (31): 17).

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu[993], dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong” (TQS. Al Hajj (22): 78).

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu(sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (TQS. Al Baqarah (2): 275).

(Baca Juga: Hafal Al Quran 30 Juz Dalam 40 Hari? Insya Alloh Bisa! Mau Tahu Caranya?)

“Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksakarena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (TQS. Al Maidah (5): 3).

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (TQS. Al Maidah (5): 38).

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. Tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.”” (TQS. Al An’aam (6): 57).

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (TQS. An Nisaa’ (4): 59)

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS. Al Maidah (5): 50).

Ketika telah memahami dan meyakini bahwa Al Quran itu shahih (benar) dan sempurna. Lantas, masihkah dan pantaskah kita ragu untuk mengambilnya, mengkajinya, meyakininya, mendakwahkannya dan menerapkannya dalam segenap aspek kehidupan kita (manusia)?

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”. (TQS. Al Anfaal (8): 24).

Masih terdapat banyak ayat lainnya sebagai seruan dari Allah SWT, Pembuat hukum yang mengatur perbuatan manusia mulai aktivitas bangun tidur hingga mengatur urusan masyarakat. Karenanya, ketika telah memahami dan meyakini bahwa Al Quran itu shahih (benar) dan sempurna. Lantas, masihkah dan pantaskah kita ragu untuk mengambilnya, mengkajinya, meyakininya, mendakwahkannya dan menerapkannya dalam segenap aspek kehidupan kita (manusia)?

Wallahu ‘alam bi ash-shawwab.

Sebelumnya…

Dikutip dan ditulis ulang dari artikel berjudul, “Al Qur’an: Penjelas Segala Sesuatu”, 16 Maret 2016, oleh Ismi Tri Wahyuni, editor Syahid (VOA Islam).

You might also like