QURANIY.ID
Pesantren Tahfidz Quran Indonesia

Al Quran Bukanlah Dongengan Orang-orang Terdahulu

2

Kaum kafir selalu membuat berbagai tuduhan palsu terhadap Al Quran. Di antaranya adalah dengan mengatakan Al Quran hanyalah dongeng orang-orang terhadulu. Rasulullah SAW dituduh hanya mengulang kembali apa yang diceritakan oleh orang-ornag terdahulu. Tujuannya utuk mengecilkan dan meremehkan Al Quran. Tuduhan tersebut jelas ngawur dan menyesatkan. Al Quran pun memberitakan tuduhan palsu itu beserta bantahan terhadapnya. Di antaranya adalah ayat berikut ini:

Dan mereka berkata: “Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.” Katakanlah: “Al Quran itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS al-Furqan [25]: 5-6)

(Baca JugaMau Hafal Al Quran 30 Juz Dalam Waktu 40 Hari? Cari Tahu Caranya Disini!)

Dongengan Orang-orang Terdahulu

Allah SWT berfirman:  Wa qâlû asâthîr al-awwalîn [i]kitatabahâ (dan mereka berkata: “Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan“). Ayat ini melanjutkan ayat sebelumnya yang memberitakan tentang tuduhan palsu kaum kafir tehadap Al Quran. Mereka mengatakan bahwa Al Quran adalah kebohongan yang diada-adakan Rasulullah SAW. Untuk itu, beliau dibantu oleh orang lain. Ditegaskan ayat tersebut, tuduhan itu justru menunjukkan kezaliman dan kebohongan mereka.

Ayat ini kembali memberitakan tuduhan palsu mereka. Menurut banyak ahli tafsir, orang yang melakukannya adalah al-Nadhar bin al-Harits. Meskipun tidak  menutup kemungkinan ada orang lain yang melemparkan tuduhan serupa. Mereka mengatakan bahwa Al Quran adalah asâtîr al-awwalîn.

Dikatakan al-Zajjaj, sebagaimana dikutip al-Qurthubi, kata asâthîr merupakan bentuk jamak dari kata usthûrah (dongeng, kisah). Menurut Dr Ahmad Mukhtar dalam Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’âshirah, kata usthûrahberarti dongeng yang didominasi oleh khayalan, melebihi kekuatan normal berupa dewa-dewa atau makhluk-makhluk halus yang biasa digunakan dalam cerita rakyat dari berbagai bangsa.

Dengan demikian, mereka menuduh Al Quran hanyalah dongeng yang dipenuhi khayalan dan khurafat dari orang-orang yang dahulu. Tuduhan itu jelas palsu sekaligus pelecehan terhadap Al Quran. Betapa tidak, Al Quran dituduh sebagai dongengan yang dipenuhi dengan khayalan dan khurafat.

Selain dalam ayat ini, tuduhan tersebut juga diberitakan dalam banyak ayat lainnya. Di antaranya adalah firman Allah SWT: Orang-orang kafir itu berkata, “Al Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu” (TQS al-An’am [6]: 26). Ayat lainnya adalah QS al-Anfal [8]: 31, aal-Mukminun [23]: 83, al-Naml [27]: 68, dan al-Ahqaf [46]: 17, al-Qalam [68]: 15, dan al-Muthaffifin [83]: 13

Kemudian disebutkan: [i]ktatabahâ. Menurut al-Alusi, kata tersebut berarti amara bi al-kitâbah (perintah untuk menuliskannya). Tak jauh berbeda, al-Khazin juga menafsirkan [i]ktatabahâ sebagai intansakhahâ (disalin, dinukil) oleh Rasulullah SAW. Beliau meminta agar ayat Al Quran ditulis orang lain karena beliau tidak menulis. Itu artinya, kaum kafir itu menuduh Rasulullah SAW memerintahkan sahabatnya untuk menuliskan kembali berbagai dongeng orang dahulu.

Juga dinyatakan: Fahiya tumlâ ‘alayhi bukrat[an] wa ashîl[an] (maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang). Selain diperintahkan kepada sahabatnya, Al Quran juga di-imlâ`-kan oleh Rasulullah SAW.

Kata al-imlâ` di sini, menurut al-Alusi, berarti al-ilqâ` li al-hizhf (disampaikan untuk dihafal). Penjelasan senada juga dikemukakan oleh para ahli tafsir lain, seperti al-Khazin, al-Baghawi, dan lain-lain. Mereka menafsirkan tumlâ ‘alayhi adalah tuqra`u alayhi (dibacakan kepadanya). Tujuannya adalah untuk dihafal, bukan ditulis.

Perbuatan itu dikatakan dilakukan pada bukrah wa ashîl. Kata bukrah berarti awal siang hari, sedangkan ashîl berarti awal malam hari. Menurut al-Alusi, dalam konteks ayat ini kedua kata tersebut memberikan makna dâim[an](selalu, terus menerus).

Inilah tuduhan kafir terhadap Al Quran. Beliau dituduh memerintahkan sahabat menuliskan dan menghafal dongengan yang dipenuhi khayalan. Tidak ada yang bermanfaat dari dongeng yang dipenuhi dengan khayalan itu kecuali sebagai pelipur lara. Tuduhan tersebut bukan hanya bertentangan dengan fakta, namun juga sangat keji.

(Baca JugaMau Hafal Al Quran 30 Juz Dalam Waktu 40 Hari? Cari Tahu Caranya Disini!)

Diturunkan oleh Allah

Terhadap tuduhan kaum kaum kafir itu, Allah SWT berfirman: Qul anzalahu al-ladzî ya’lamu al-sirra fî al-samâwâti wa al-ardhi (katakanlah: “Al Quran itu diturunkan oleh [Allah] yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi). Perintah qul (katakanlah) ditujukan kepada Rasulullah SAW. Beliau diperintahkan untuk menyampaikan bantahan terhadap tuduhan palsu kaum kafir itu.

Kepada mereka dikatakan bahwa Al Quran merupakan kitab yang diturunkan oleh Allah SWT. Dalam ayat ini disebutkan bahwa Dia adalah Dzat yang mengetahui al-sirr fî al-samâwâti wa al-ardhi. Menurut al-Khazin, al-sirr di sini bermakna al-ghayb (yang tidak terlihat).

Jawaban ini jelas membungkam tuduhan mereka. Dalam Al Quran memang terdapat banyak berita tentang fakta dan kejadian ghaib yang tidak terindera. Namun bukan seperti dongengan yang dipenuhi dengan khayalan dan khurafat. Sebab, dongengan yang diterima dari mulut ke mulut itu tidak jelas asal-usulnya dan siapa pembuatnya. Al Quran bukan dongengan. Sebab, semua beritaya adalah haq lantaran berasal dari Allah SWT, Dzat yang mengetahui seluruh perkara yang tersembunyi di langit dan bumi.

Di samping itu, seandainya Al Quran adalah dongeng yang diambil dari orang dahulu, semestinya kaum musyrik itu juga akan mendapatkan cerita yang sama dari nenek moyang mereka. Namun, mereka tidak mendapatkannya dari nenek moyang mereka.

Dalam ayat memang hanya disebutkan ‘Dzat mengetahui al-sirr (yang tersembunyi)’. Meskipun demikian, kalimat tersebut memberikan pengertian bahwa Dia juga mengetahui al-jahr (yang terang). Dikatakan al-Qurthubi, jika Dia mengetahui yang tersembunyi, maka terhadap perkara yang terang tentu lebih mengetahui.

Kandungan lain dari ayat ini, sebagaimana dikemukakan al-Samarqandi, adalah “Seandainya perkataan itu dari Nabi Muhammad SAW sendiri, sungguh Allah SWT mengetahuinya. Dan jika Dia mengetahuinya, maka akan menghukumnya, sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya: Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami (TQS al-Haqqah [69]: 44).”

Selain itu, ayat ini juga memberikan dorongan kepada mereka untuk melakukan tadabbur terhadap Al Quran. Sesungguhnya mereka, seandainya melakukan tadabbur terhadap Al Quran, maka akan melihat ilmu dan hukum-hukum di dalamnya menunjukkan secara pasti bahwa Kitab itu tidak mungkin kecuali berasal dari Dzat yang Maha Mengetahui yang ghaib maupun yang tampak. Demikian dipaparkan Abdurrahman al-Sa’di dalam tafsirnya.

Kemudian ayat ini diakhiri dengan firman-Nya: Innahu kâna Ghafûr[an] Rahîm[an] (Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”). Menurut al-Samarqandi, firman Allah SWT ini mengandung pengertian: Kembali dan bertaubatlah, karena sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat; dan Maha Penyanyang bagi kaum Mukmin.

Di samping itu, penyebutan dua sifat itu merupakan al-tanbîh (peringatan halus). Bahwa mereka sesungguhnya telah layak mendapatkan azab atas kejahatan yang mereka lakukan. Namun Allah SWT menundanya lantaran Dia memiliki sifat al-maghfirah dan al-rahmah. Seolah dikatakan, Dia memiliki ampunan dan kasih sayang sehingga Dia tidak menyegerakan azab bagi kamu padahal sesungguhnya sudah amat pantas mendapatkannya. Seandainya tidak demikian, sungguh Dia telah menimpakan azab-Nya kepada kalian.

Demikianlah. Al Quran merupakan kitab dari Allah SWT yang berisi petunjuk hidup bagi manusia. Di dalamnya terdapat berbagai berita ghaib yang tidak diketahui oleh manusia. Semuanya adalah haq. Siapa pun yang mengingkarinya, apalagi melemparkan tuduhan palsu terhadapnya, pasti akan menerima akibatnya. Yakni azab yang amat dahsyat dari pemilik kerajaan langit dan bumi, Allah SWT. Mungkin tidak di dunia, namun di akhirat pasti akan merasakan azab pedih tersebut. Semoga kita tidak termasuk di dalamnya.

Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.

(Baca JugaMau Hafal Al Quran 30 Juz Dalam Waktu 40 Hari? Cari Tahu Caranya Disini!)

Ikhtisar:

Al Quran bukan dongeng yang dipenuhi khayalan sebagaimana tuduhan kaum kafir

Al Quran merupakan kitab dari Allah SWT, Dzat yang mengetahui seluruh rahasia langit dan bumi.

You might also like