QURANIY.ID
Pesantren Tahfidz Quran Indonesia

Hubungan Antara Ilmu Tahsin/Tajwid Serta Ilmu Qira’at

3

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sahabat Quran yang mudah-mudahan dirohmati Alloh swt.
Membaca Al Quran tentunya tidak terlepas dari penguasaan hukum-hukum bacaan (tahsin/tajwid) dan cara membacanya (qira’at) itu sendiri. Lantas, apakah ada hubungan antara kedua ilmu tersebut? Berikut penjelasannya:

(BacaHafal Al Quran 30 Juz Dalam 40 Hari? Insya Alloh Bisa! Mau Tahu Caranya?)

Ilmu Tajwid tidak bisa dilepaskan keberadaannya dari ilmu Qira’at. Keberagaman cara membaca lafazh-lafazh Al Quran merupakan dasar bagi kaidah-kaidah dalam Ilmu Tajwid. Ilmu Qira’at adalah ilmu yang membahas bermacam-macam bacaan (Qira’at) yang diterima dari Nabi saw. dan menjelaskan sanad serta penerimaannya dari Nabi saw. Dalam ilmu ini, diungkapkan Qira’at yang shahih serta tidak shahih seraya menisbatkan setiap wajah bacaannya kepada seorang imam Qira’at. (Lihat: Ensiklopedi Islam Jilid IV:142)

Asal mula terjadinya perbedaan ini adalah karena bangsa Arab dahulu memiliki berbagai dialek bahasa (lahjah) yang berbeda antara satu kabilah dengan kabilah lainnya. Dan al Quran yang diturunkan Allah swt kepada Rasulnya saw. menjadi semakin sempurna kemukjizatannya karena ia mampu menampung berbagai macam dialek tersebut sehingga tiap kabilah dapat membaca, menghafal, dan memahami wahyu Allah. (Lihat: Kaidah Qira’at Tujuh : 1)

Qira’at yang bermacam-macam ini telah mantap pada masa Rasulullah saw. dan beliau saw. mengajarkannya kepada para shahabat ra sebagaimana beliau menerimanya dari Jibril as. Kemudian pada masa shahabat muncul para ahli Qira’at Al Quran yang menjadi panutan masyarakat. Yang termahsyur diantara mereka antara lain Ubay bin Ka’b, ‘Utsman bin ‘Affan, ‘ali bin Abi Thalib, ‘Abdullah bin Mas’ud, Zaid bin Tsabit dan Abu Musa Al Asy’ari. Mereka lah yang menjadi sumber bacaan bagi sebagian besar shahabat dan tabi’in.

Namun dalam perkembangan selanjutnya, perbedaan Qira’at ini menghadapi masalah yang serius karena munculnya banyak versi bacaan yang semuanya mengaku bersumber dari Nabi saw. Untuk itu dilakukanlah penelitian dan pengujian oleh para pakar qira’at dengan menggunakan kaidah dan kriteria dari segi sanad, rasm ‘utsmani, dan tata bahasa arab.

Setelah melalui upaya yang keras serta penelitian dan pengujian yang mendalam terhadap berbagai qira’at Al Quran yang banyak beredar tersebut, ternyata yang memenuhi syarat mutawatir, menurut kesepakatan para ulama ada tujuh Qira’at. Tujuh qira’at ini selanjutnya dikenal dengan sebutan qira’ah sab’ah (bacaan yang tujuh). (Lihat: Kaidah Qira’at Tujuh : 5)

Qira’at sab’ah ini masing masih dibawa dan dipopulerkan oleh seorang imam qira’at, sehingga seluruhnya berjumlah tujuh orang imam Qira’at. Sebagai penghargaan dan agar mudah diingat, nama-nama mereka selanjutnya diabadikan pada qiraahnya masing-masing (contohnya: Qira’at ‘ashim, Qira’at Nafi’dst.). Patut dipahami, hal ini bukan berarti bahwa merekalah yang menciptakan Qira’at sendiri, namun Qira’at yang mereka anut dan gunakan tetap bersumber dari Rasulullah saw. yang diperolehnya secara sambung-menyambung dari generasi-generasi sebelumya.

(Baca JugaHafal Al Quran 30 Juz Dalam 40 Hari? Insya Alloh Bisa! Mau Tahu Caranya?)

Berikut nama Imam Qira’at sab’ah dan para perawi yang mahsyur meriwayatkan Qira’at darinya: (Lihat: Kaidah Qira’at Tujuh 6-10)

‘Abdullah bin Amir Al Yahsabi (Imam Ibnu ‘Amir)

Beliau mengambil Qira’at dari ‘Utsman bin ‘Affan radliyallaahu ‘anhu dan ‘Utsman mengambilnya dari Rasulullah saw. Para perawinya antara lain : Hisyam bin ‘Ammar Ad Dimasyqi (Hisyam) serta Abu ‘Amir “abdullah bin Ahmad Bin Basyir bin Zakwan Ad Dimasyqi (Ibnu Zakwan)

Abu Ma’bad ‘Abdullah bin Katsir Al Makki (Imam Ibnu Katsir)

Beliau mengambil Qira’at dari Ubay bin Ka’b dan ‘Umar bin Khattab radliyallaahu ‘anhuma dari Rasulullah saw. melalui ‘Abdullah bin Sa’id Al Makhzumi. Para perawinya yang terkenal antara lain Ahmad bin Muhammad bin ‘Abdullah bin Abu Bazzah (Al Bazzi) serta muhammad bin ‘Abdurrahman bin Muhammad Al Makhzumi (Qunbul)

Abu Bakr ‘Ashim bin Abin Nujud Al Asadi (Imam ‘Ashim)

Beliau mengambil Qira’at dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Thalib, ‘Ubay bin Ka’b, dan Zaid bin Tsabit radliyallaahu ‘anhum dari Rasulullah saw. melalui Abu Abdurrahman bin Hubaib As Sulami. Para perawinya yang terkenal antara lain Abu Bakr Syu’bah bin ‘Ayyasy bin Salim Al Asadi (Syu’bah) dan Abu ‘Amr Hafs bin Sulaiman bin Al Mughirah (Hafs).

Zabban bin al ‘Ala bin ‘ammar (Imam Abu Amr)

Beliau mengambil Qira’at dari ‘Umar bin Khattab dan ‘Ubay bin Ka’b radliyallaahu ‘anhuma melalui Abu Ja’far Yazid bin Al Qa’qa dan Hasan Al Bashri. Hasan Al Bashri mengambil Qira’at dari Haththan dan Abul ‘Aliyyah, Abul ‘Aliyyah dari Umar bin Khattab dan ‘Ubay bin Ka’b radliyallaahu ‘anhuma dari Rasulullah saw. Para perawinya yang terkenal antara Abu ‘Umar Hafs bin ‘Umar (Ad Duri) dan Abu Syu’aib shalih bin Zaiyad As Susi (As Susi)

Nafi’ bin Abdurrahman bin Abu Nu’aim Al Laitsi (Imam Nafi’)

Beliau mengambil Qira’at dari banyak guru, diantaranya ‘Abdurrahman bin Hurmuz yang mengambil qirat dari ‘Abdullah bin Abbas dan Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhuma yang mengambil qiraah dari Ubay bin Ka’b radliyallaahu’anhu. ‘Ubay bin Ka’b radliyallaahu ‘anhu dari Rasulullah saw. Para perawinya yang terkenal antara lain Abu Musa ‘Isa bin Mina (Qalun) dan “utsman bin Sa’id Al Mishri (Warsy)

Hamzah bin Hubaib Az Zayat (Imam Hamzah)

Beliau mengambil Qira’at dari ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu melalui Abu Muhammad bin Sulaiman bin Mahran Al ‘Amasyi yangmengambil Qira’at dari Abu Muhammad Yahya Al Asdi dari Alqamah bin Qais. Alqamah bin Qais talaqqi dari Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu dari Rasulullah saw. Para perawinya yang terkenal antara Abu Muhammad Khalaf bin Hisayam Al Bazzaz (Khalaf) dan Abi ‘Isa Khallad bin Khalid As Sairafi (Khallad)

Abul Hasan ‘Ali bin Hamzah Al Kisa’i (Imam Al Kisa-i)

Beliau mengambil Qira’at dari Imam Hamzah dan juga talaqqi kepada Muhammad bin Abu Laili dan ‘Isa bin ‘Umar. Sementara ‘Isa Bin ‘Umar mengambil Qira’at dari Imam ‘Ashim. Para perawi Imam Al Kisa-i yang terkenal antara lain Al Lais bin Khalid Al Baghdadi (abu Harits) serta Abu ‘Umar Hafsh bin ‘Umar (ad Duri al Kisa-i)

Qira’at Al Quran yang dibawa oleh ketujuh imam Qira’at diatas bukanlah hasil ijtihad, melainkan perkara saklek yang berpegang kepada riwayat-riwayat mutawaatir (Lihat: Kaidah Qira’at Tujuh: 14). Qira’at yang banyak dipelajari dan dipakai oleh kaum Muslimin di Indonesia adalah qira’at ‘Ashim riwayat Hafsh thariqah Syatibiyyah. Riwayat Hafs memiliki 2 thariqah yaitu thariqah Syatibiyah dan thariqah Thayyibatun Nasyr.

Wallahu a’lam bishshowab.

Rujukan :

Ensiklopedi Islam

Diambil dari Pedoman Ilmu Tajwid Lengkap, Ustadz Acep Iim A.

Kaidah Qira’at Tujuh

Metode Asy Syafi’i, Abu Ya’la Kurnaedi Lc., dan Nizar Sa’ad Jabal Lc., M.Pd.

Dikutip dari artikel berjudul, “Hubungan Ilmu Tahsin (Tajwid) dan Ilmu Qira’at“, 30 Mei 2012.

You might also like